Pernikahan kami memasuki tahun
kelima, pasti banyak yang bertanya apakah kami sudah mempunyai anak? Belum,
sampai saat ini kami belum dikaruniai anak. Kasihan? No, don’t be. Karena kami
happy.
Cukup lama bagi saya untuk
menyadari apa arti kehadiran anak, hingga saat ini pun saya masih proses
belajar memahami apa itu anak. Di awal pernikahan, seperti pada umumnya
pasangan baru, pasti mengharapkan anak (kecuali yang punya program lain).
Rasanya itu seperti siklus standard kehidupan, yang sayangnya tidak terjadi
kepada kami. Setelah 1 tahun pernikahan, keluarga, saudara, dan kenalan mulai
menanyakan kami yang belum kunjung dapat anak. Umumnya, mereka masih bercanda.
Tekanan keluarga mulai berasa di tahun kedua, mulai ada rasa “menuntut”. Di
tahun berikutnya, keluarga semakin menuntut dan kenalan pun menunjukkan rasa
kasihan.
Well,, mungkin kalian (yang ngga kenal
dekat dengan kami) belum pernah mendengar versi kami yang sesungguhnya. Kami
bahagia (dan berduka) dalam pernikahan kami dengan canda dan tangis, semuanya
kami nikmati berdua. Ketawa bedua, tengkar juga berdua, menggila berdua, mellow
berdua, semuanya kami nikmati. Tak pernah sekali pun kami merasa sedih atau
membahas kondisi kami yang belum kunjung anak. Kalau pun dibahas, diributkan,
disedihkan itu ketika kami merasa adanya tuntutan ataupun rasa kasihan dari
lingkungan kami. Karena itu rasanya sungguh sakit dan menyedihkan.
Buat saya yang punya perasaan
sensitif dan gampang nangis, kondisi itu berat dan bikin stress. Ini jadi salah
satu alasan, kenapa saya minta berhenti kerja sama suami. Karena saya selalu
menyalahkan stress kerjaan yang jadi penyebab saya susah punya anak. Awalnya
penuh pertentangan dari suami, tapi akhirnya dia mengalah juga.
Apa kami berobat? Oh iya,, saya
banyak baca blog ataupun cerita orang yang berobat kesana kemari, ada juga yang
frustasi, stress dengan pengobatannya. Nah, karena saya malas, akhirnya saya
cari dokter khusus infertilitas dan professor, dengan harapan cukup 1 dokter
saja. Jadi kasus saya adalah PCOS, suami juga disuruh berobat ke dokter
Andrologi. Kata dokter ataupun saya baca dari internet, kasus saya bukan kasus
yang susah untuk diobati dan sering sekali terjadi di wanita jaman sekarang
ini. Nah, kasus suami gak jelas, dokternya bilang perlu tau cari penyebabnya, jadi
perlu serangkain tes. Sejujurnya kami pun malas, karena selain biaya nya yang
besar, ketidakpastian, dan tiap kali ke dokter antriannya panjang banget.
Singkat cerita, jadi kalau mau
program anak paling cepat dengan inseminasi buatan. Jadi sperma suami, langsung
disuntik ke indung telur. Oh proses ini ngga gampang, ada saja masalah. Inti
prosesnya, saya terapi hormon, biar sel telurnya siap. Di program pertama, saat
terapi hormon, kami berdua tengkar hebat, stress, terus gagal. Di program kedua,
terapi hormon berhasil membuat sel telur nya siap, inseminasi, tapi saya
kepikiran, gagal lagi. Nah setelah itu saya malas ke dokter. Karena setiap ke
dokter pasti kepikiran, jadi ntar aja kalau saya uda lebih rileks, jadi duit
ngga terbuang sia-sia.
Oke, selanjutnya percaya ngga
percaya. Jadi ceritanya kami sedang proses cari rumah. Kami pun konsultasi ke
orang yang bisa baca feng shui. Dengar-dengar beliau ini orang “pintar”. Iseng
lah kami tanya setelah konsultasi rumah selesai. Dan dia intinya sayalah
penyebab dari masalah ini. Cara pandang saya tentang anak inilah penyebabnya.
Dia bilang masalah kesehatan kami tidak sulit, dia sanggup obati, tapi kalau
cara pandang saya tentang anak belum benar, pengobatan semahal apa pun akan
gagal. Lalu apa anak itu? Dia bilang, saya dan suami sudah bisa disebut
keluarga. Anak adalah karunia, jadi dengan atau tanpa anak, saya dan suami
sudah disebut keluarga. Kalau dengan cara pandang saya itu, kenapa saya ngga
adopsi anak saja. Kalau saya hanya ingin disebut keluarga, adopsi anak selesai.
Dengan adopsi anak dan saya bisa jawab ke orang-orang yang bertanya “sudah
punya anak belum?”. Masalah pun selesai.
Waaaoooo….!!!! Saya syok saat itu
dan menyangkalnya. Masak saya segitunya harus adopsi anak, masak saya ngga
dewasa memahami arti anak, intinya kenapa saya penyebabnya. Butuh waktu lama
untuk saya menyadari dan mengakui bahwa yang dikatakan beliau itu benar.
Beberapa peristiwa yang membuat akhirnya saya sadar.
Salah satu peristiwa, karena saya
begitu stress, frustasi, dan depresi. Saya pernah merasakan kebencian terhadap
“anak”. Saya membayangkan bahwa ketika saya hamil nanti, saya bakal happy,
karena bisa menjawab ke orang-orang yang sering bertanya “kok belum punya
anak?”. Tapi setelah melahirkan saya akan benci ke anak itu “kenapa baru datang
sekarang? Gara2 kamu saya jadi depresi”. Ini benar terjadi lho, saya depresi
karena “anak yang belum datang” ini. Sampai saya takut saat itu untuk punya
anak, karena kasihan jika anak itu beneran datang tapi saya salahkan. Hanya 1
teman yang saya ceritakan masalah ini.
Saat ini saya sedang dalam proses
keluar dari perasaan itu semua, menata pikiran, dan memahami arti anak dalam
pernikahan. Well,, jadi begini menurut pemikiran dan pemahaman saya. Anak
bukanlah tujuan dari pernikahan. Saya dan suami memutuskan menikah karena kami
ingin hidup berdua, bukan karena ingin punya anak. Saya yakin bisa berkomitmen
untuk hidup berdua seumur hidup saya, makanya saya berani memutuskan untuk
menikah. Anak adalah anugerah dari pernikahan, bukan keharusan untuk ada dan
bukan kewajiban saya sebagai seorag anak untuk memberikan cucu kepada orang
tua. Banyak cara bagi saya sebagai anak untuk berbakti tanpa harus memberikan
cucu. Sekarang hidup saya tidak lagi bertujuan untuk punya anak, tapi bukan
berarti saya menolak untuk punya anak. Saya punya tujuan hidup yang lain, yang
sedang ingin saya kerjakan dan selesaikan. Tdak lagi berkutat dengan stress,
frustasi dan kesedihan itu. Dengan pemikiran baru ini, rasanya beban itu terangkat.
Sekarang sudah mulai berani jawab
kalau ditanya :
-
“Kok belum punya anak?” Lho, emang punya anak segampang masak
apa? Baca resep terus jadi
-
“nanti keburu tua, ngga bagus buat lahiran” lah
kl gitu apa ngga usah aja sekalian
-
“ngga coba ini itu?” kita liat dulu, kalo ngga
lagi malas boleh dicoba
-
“kasian papa mama uda mo nimang cucu” kan uda
banyak cucu ponakan, urusin aja mereka
-
“kapan kasih cucu?” on the process
-
“kalau punya anak itu bahagia lho” lah terus
kita ngga boleh bahagia karena ngga punya anak?
-
“adopsi?” ntar kalau uda pindah rumah, mau
adopsi kucing
Sekarang lagi berobat ngga? Uda
ngga, tapi sempet pengobatan alternatif, tusuk jarum. Kenapa pilih metode ini?
Karena pengobatannya ngga nyiksa kayak dokter obgyn pada umumnya. Dengan sinshe
ini, dia ngga fokus buat program hamil saja, tapi dia obatin penyebab PCOS nya.
PCOS ini salah satu gejala saya berpotensi diabetes. Di awal pengobatan, saya
diminta diet gula (padahal saya kurus), tapi setelah beberapa bulan, saya uda
boleh makan gula lagi asal ngga berlebih. Enak to? Hidup lebih sehat, ngga
kayak dokter yang cuman fokus terapi hormon saja. Terus kenapa masih belum
berhasil? Nah itu masalah lain, emang belum rejeki dan bukan untuk diceritakan
saat ini.