Kamis, 21 Maret 2019

Apa menikah harus punya anak?


Pernikahan kami memasuki tahun kelima, pasti banyak yang bertanya apakah kami sudah mempunyai anak? Belum, sampai saat ini kami belum dikaruniai anak. Kasihan? No, don’t be. Karena kami happy.

Cukup lama bagi saya untuk menyadari apa arti kehadiran anak, hingga saat ini pun saya masih proses belajar memahami apa itu anak. Di awal pernikahan, seperti pada umumnya pasangan baru, pasti mengharapkan anak (kecuali yang punya program lain). Rasanya itu seperti siklus standard kehidupan, yang sayangnya tidak terjadi kepada kami. Setelah 1 tahun pernikahan, keluarga, saudara, dan kenalan mulai menanyakan kami yang belum kunjung dapat anak. Umumnya, mereka masih bercanda. Tekanan keluarga mulai berasa di tahun kedua, mulai ada rasa “menuntut”. Di tahun berikutnya, keluarga semakin menuntut dan kenalan pun menunjukkan rasa kasihan.

Well,, mungkin kalian (yang ngga kenal dekat dengan kami) belum pernah mendengar versi kami yang sesungguhnya. Kami bahagia (dan berduka) dalam pernikahan kami dengan canda dan tangis, semuanya kami nikmati berdua. Ketawa bedua, tengkar juga berdua, menggila berdua, mellow berdua, semuanya kami nikmati. Tak pernah sekali pun kami merasa sedih atau membahas kondisi kami yang belum kunjung anak. Kalau pun dibahas, diributkan, disedihkan itu ketika kami merasa adanya tuntutan ataupun rasa kasihan dari lingkungan kami. Karena itu rasanya sungguh sakit dan menyedihkan.

Buat saya yang punya perasaan sensitif dan gampang nangis, kondisi itu berat dan bikin stress. Ini jadi salah satu alasan, kenapa saya minta berhenti kerja sama suami. Karena saya selalu menyalahkan stress kerjaan yang jadi penyebab saya susah punya anak. Awalnya penuh pertentangan dari suami, tapi akhirnya dia mengalah juga.

Apa kami berobat? Oh iya,, saya banyak baca blog ataupun cerita orang yang berobat kesana kemari, ada juga yang frustasi, stress dengan pengobatannya. Nah, karena saya malas, akhirnya saya cari dokter khusus infertilitas dan professor, dengan harapan cukup 1 dokter saja. Jadi kasus saya adalah PCOS, suami juga disuruh berobat ke dokter Andrologi. Kata dokter ataupun saya baca dari internet, kasus saya bukan kasus yang susah untuk diobati dan sering sekali terjadi di wanita jaman sekarang ini. Nah, kasus suami gak jelas, dokternya bilang perlu tau cari penyebabnya, jadi perlu serangkain tes. Sejujurnya kami pun malas, karena selain biaya nya yang besar, ketidakpastian, dan tiap kali ke dokter antriannya panjang banget.

Singkat cerita, jadi kalau mau program anak paling cepat dengan inseminasi buatan. Jadi sperma suami, langsung disuntik ke indung telur. Oh proses ini ngga gampang, ada saja masalah. Inti prosesnya, saya terapi hormon, biar sel telurnya siap. Di program pertama, saat terapi hormon, kami berdua tengkar hebat, stress, terus gagal. Di program kedua, terapi hormon berhasil membuat sel telur nya siap, inseminasi, tapi saya kepikiran, gagal lagi. Nah setelah itu saya malas ke dokter. Karena setiap ke dokter pasti kepikiran, jadi ntar aja kalau saya uda lebih rileks, jadi duit ngga terbuang sia-sia.

Oke, selanjutnya percaya ngga percaya. Jadi ceritanya kami sedang proses cari rumah. Kami pun konsultasi ke orang yang bisa baca feng shui. Dengar-dengar beliau ini orang “pintar”. Iseng lah kami tanya setelah konsultasi rumah selesai. Dan dia intinya sayalah penyebab dari masalah ini. Cara pandang saya tentang anak inilah penyebabnya. Dia bilang masalah kesehatan kami tidak sulit, dia sanggup obati, tapi kalau cara pandang saya tentang anak belum benar, pengobatan semahal apa pun akan gagal. Lalu apa anak itu? Dia bilang, saya dan suami sudah bisa disebut keluarga. Anak adalah karunia, jadi dengan atau tanpa anak, saya dan suami sudah disebut keluarga. Kalau dengan cara pandang saya itu, kenapa saya ngga adopsi anak saja. Kalau saya hanya ingin disebut keluarga, adopsi anak selesai. Dengan adopsi anak dan saya bisa jawab ke orang-orang yang bertanya “sudah punya anak belum?”. Masalah pun selesai.

Waaaoooo….!!!! Saya syok saat itu dan menyangkalnya. Masak saya segitunya harus adopsi anak, masak saya ngga dewasa memahami arti anak, intinya kenapa saya penyebabnya. Butuh waktu lama untuk saya menyadari dan mengakui bahwa yang dikatakan beliau itu benar. Beberapa peristiwa yang membuat akhirnya saya sadar.

Salah satu peristiwa, karena saya begitu stress, frustasi, dan depresi. Saya pernah merasakan kebencian terhadap “anak”. Saya membayangkan bahwa ketika saya hamil nanti, saya bakal happy, karena bisa menjawab ke orang-orang yang sering bertanya “kok belum punya anak?”. Tapi setelah melahirkan saya akan benci ke anak itu “kenapa baru datang sekarang? Gara2 kamu saya jadi depresi”. Ini benar terjadi lho, saya depresi karena “anak yang belum datang” ini. Sampai saya takut saat itu untuk punya anak, karena kasihan jika anak itu beneran datang tapi saya salahkan. Hanya 1 teman yang saya ceritakan masalah ini.

Saat ini saya sedang dalam proses keluar dari perasaan itu semua, menata pikiran, dan memahami arti anak dalam pernikahan. Well,, jadi begini menurut pemikiran dan pemahaman saya. Anak bukanlah tujuan dari pernikahan. Saya dan suami memutuskan menikah karena kami ingin hidup berdua, bukan karena ingin punya anak. Saya yakin bisa berkomitmen untuk hidup berdua seumur hidup saya, makanya saya berani memutuskan untuk menikah. Anak adalah anugerah dari pernikahan, bukan keharusan untuk ada dan bukan kewajiban saya sebagai seorag anak untuk memberikan cucu kepada orang tua. Banyak cara bagi saya sebagai anak untuk berbakti tanpa harus memberikan cucu. Sekarang hidup saya tidak lagi bertujuan untuk punya anak, tapi bukan berarti saya menolak untuk punya anak. Saya punya tujuan hidup yang lain, yang sedang ingin saya kerjakan dan selesaikan. Tdak lagi berkutat dengan stress, frustasi dan kesedihan itu. Dengan pemikiran baru ini, rasanya beban itu terangkat.

Sekarang sudah mulai berani jawab kalau ditanya :
-          “Kok belum punya anak?” Lho, emang punya anak segampang masak apa? Baca resep terus jadi
-          “nanti keburu tua, ngga bagus buat lahiran” lah kl gitu apa ngga usah aja sekalian
-          “ngga coba ini itu?” kita liat dulu, kalo ngga lagi malas boleh dicoba
-          “kasian papa mama uda mo nimang cucu” kan uda banyak cucu ponakan, urusin aja mereka
-          “kapan kasih cucu?” on the process
-          “kalau punya anak itu bahagia lho” lah terus kita ngga boleh bahagia karena ngga punya anak?
-          “adopsi?” ntar kalau uda pindah rumah, mau adopsi kucing

Sekarang lagi berobat ngga? Uda ngga, tapi sempet pengobatan alternatif, tusuk jarum. Kenapa pilih metode ini? Karena pengobatannya ngga nyiksa kayak dokter obgyn pada umumnya. Dengan sinshe ini, dia ngga fokus buat program hamil saja, tapi dia obatin penyebab PCOS nya. PCOS ini salah satu gejala saya berpotensi diabetes. Di awal pengobatan, saya diminta diet gula (padahal saya kurus), tapi setelah beberapa bulan, saya uda boleh makan gula lagi asal ngga berlebih. Enak to? Hidup lebih sehat, ngga kayak dokter yang cuman fokus terapi hormon saja. Terus kenapa masih belum berhasil? Nah itu masalah lain, emang belum rejeki dan bukan untuk diceritakan saat ini.

Apa menikah harus punya anak?

Pernikahan kami memasuki tahun kelima, pasti banyak yang bertanya apakah kami sudah mempunyai anak? Belum, sampai saat ini kami belum dika...